Kemajuan Dalam Bidang Pendidikan Pada Masa Bani Abbasiyah

Kemajuan pendidikan abbasiyah, kemajuan pendidikan bani abbasiyah, pendidikan bani abbasiyah, kemajuan pendidikan bani abbas, pendidikan pada masa abbasiyah, kemajuan bani abbasiyah dibidang pendidikan, pendidikan bani abbasiyah mengalami kemajuan

(source: republika.co.id)

Pada masa pemerintahan Bani Abbas, kegiatan pendidikan dan pengajaran mencapai kemajuan gemilang. Sebagian Khalifah Abbasiyah merupakan orang berpendidikan. Sebenarnya, pada masa akhir pemerintahan Bani Umayyah kegiatan pendidikan telah tersebar di wilayah muslim, tapi baru pada masa Bani Abbasiyah lah bidang pendidikan dan pengajaran mencapai kemajuan pesat. Pada masa itu, mayoritas umat Islam mampu membaca dan menulis, mereka juga dapat memahami Al-Qur’an. Pada masa ini, pendidikan tingkat dasar diselenggarakan di masjid-masjid, dimana al-qur’an merupakan bahan rujukan wajib.

Selain itu, terdapat juga kegiatan pendidikan dan pengajaran di rumah-rumah penduduk dan di tempat-tempat umum lainnya, misalnya, Maktab. Terdapat juga sejumlah lembaga sekolah masjid-masjid, seperti Zawiyah, Hanqah dan lain-lain. Menurut keterangan yang ada, terdapat sekitar 30.000 masjid yang sebagian besar dipergunakan sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran tingkat dasar. Pendidikan pada masa pemerintahan Bani Abbas tidak hanya diikuti oleh anak-anak pada tingkat dasar saja, juga terdapat pendidikan tingkat menengah dan tingkat tinggi, seperti Baitul Hikmah dan madrasah Nidzamiyah yang tidak hanya ada di Baghdad, ada juga di Persia. Madrasah ini didirikan oleh Nizham al-Mulk, seorang wazir Sultan Saljuk antara tahun 1065-1067 M dan merupakan pusat lembaga pendidikan agama yang terbesar pada masa dinasti Abbasiyah.

Kurikulum pendidikan pada tingkat dasar terdiri dari pelajaran membaca, menulis, tata bahasa, hadits, prinsip-prinsip dasae matematika dan pelajaran syair. Sedangkan pendidikan tingkat menengah terdiri dari pelajaran tafsir Al-Qur’an, sunah Nabi, fiqh dan ushul fiqh, kajian ilmu kalam (teologi), ilmu mantiq (retorika) dan kesusastraan. Kaum terpelajar tingkat tinggi mengadakan pengkajian dan penelitian mandiri di bidang astronomi, goegrafi dunia, filsafat, geometri, musik dan kedokteran.

Perkembangan Seni Musik Pada Masa Bani Abbasiyah

Seni musik bani abbasiyah, musik masa abbasiyah, musik masa umayyah, musik masa dinasti islam, pencetus musik pertama, penemu noot musik pertama, penemu irama pertama, tokoh islam penemu musik, penemu musik pertama adalah orang islam.jpg

Image: islami.co

Perkembangan Seni Musik Pada Masa Bani Abbasiyah

Pada umumnya orang Arab memiliki bakat musik, sehingga seni suara atau seni musik menjadi suatu keharusan nagi mereka sejak zaman jahiliah. Setalah mereka masuk Islam, bakat musik selalu berkembang dengan jiwa dan semangat baru. Al-Qur’an dengan bahasanya yang sangat indah memberi nafas baru bagi musik Arab, bahkan mendorong mereka untuk mengembangkan bakat musiknya. Hal ini terus berkembang pada masa Bani Umayyah hingga Abbasiyah. Pada masa pemerintahan dinasti Bani Abbasiyah, musik Islam mengalami masa kejayaan. Karya dan pemikiran seni tersebut merupakan bentuk dari rasa cinta mereka terhadap Islam. Hal itu diawali dari:

A. Penyusunan Kitab Musik
Kegiatan penerjemahan yang dilakukan oleh umat Islam ketika itu tidak hanya terbatas dalam bidang ilmu pengetahuan, sains dan filsafat, juga mencakup karya-karya musik. Karya musik yang mereka terjemahkan menambah wawasan pengetahuan mereka tentang musik, sehingga lambat laun mereka mampu menciptakan karya musik Islam. Bahkan dengan kemampuan yang mereka miliki, mereka mampu menciptakan karya baru dan menyempurnakan karya lama. Sehingga seni musik ini menjadi khazanah peradaban umat Islam.

Diantara para pengarang karya kitab musik adalah sebagai berikut:

  1. Yunus bin Sulaiman (wafat 765 M). Beliau adalah pengarang teori musik pertama dalam Islam. Karyanya dakam bidang musik sangat bernilai, sehingga banyak musikus Eropa yang meniru gaya musik yang diciptakan oleh Yunus bin Sulaiman.
  2. Khalil bin Ahmad (wafat tahun 791 M). Beliau mengarang buku-buku teori musik mengenai noot dan irama. Karya Khalil kemudian dijadikan sebagai bahan rujukan bagi sekolah-sekolah tinggi musik diseluruh dunia.
  3. Ishaq bin Ibrahim al-Mousuly (wafat tahun 850 M). Ia telah berhasil memperbaiki musik jahiliah dengan sistem baru. Sistem musiknya yang terkneal adalah Kitabul Ilhan wal Ghanam (buku noot dan irama). Karena begitu terkenalnya Ishaq, dia mendapat gelar Raja Musik (imamul mughanniyin).
  4. Hunain bin Ishak (wafat tahun 873 M). Ia telah berhasil menerjemahkan buku-buku teori musik karangan Plato dan Aristoteles yang berjudul Problemata dan De Anima dan karangan Gelen, De Voe.
  5. Al-Farabi. Selain sebagai seorang filosuf, ia juga dikenal sebagi seorang seniman dan ahli musik. Karyanya banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa dan menjadi bahan rujukan bagi para seniman dan pemusik Eropa.

B. Pendidikan Musik
Para Khalifah dan pembesar istana Bani Abbas memiliki perhatian yang sangat besar terhadap musik. Untuk kepentingan itu, banyak didirikan lembaga pendidikan musik. Sekolah musik yang paling baik adalah sekolah musik yang didirikan oleh Sa’aduddin Mukmin (wafat 1294 M). Karyanya berjudul Syarafiya menjadi bahan rujukan dan dikagumi masyarakat musik di dunia Barat.

Diantara latar belakang penyebab maraknya lembaga pendidikan musik bermunculan pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah adalah karena kemampuan bermain musik menjadi salah satu syarat unruk menjadi pegawai atau untuk memperoleh pekerjaan di lembaga pemerintahan.

Referensi: Murodi, “Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah Kelas XII”, Semarang: PT. Karya Toha Putra, 2009. Hal. 99-100

Kronologis lenyapnya hari “AHAD” dari bumi Indonesia.

hari ahad, hari minggu, hilangnya hari ahad, sejarah hari minggu, mengapa hari ahad jarang dipakai, hari minggu harinya orang non muslim, hari ahad mulai hilang, hari ahad lenyap, hari minggu menghilangkan hari ahad

Source: Nahimunkar.org

Alkisah; Sebelum Tahun 1960, tak pernah dijumpai nama hari yg bertuliskan “MINGGU” selalu tertulis hari “AHAD”.

Begitu juga penanggalan di kalender tempo dulu,

Masyarakat Indonesia tidak mengenal sebutan “Minggu”.
Kita semua sepakat bahwa kalender atau penanggalan di Indonesia telah terbiasa dan terbudaya utk menyebut hari “AHAD” di dalam setiap pekan (7 hari) dan telah berlaku sejak periode yg cukup lama.

– Bahkan telah menjadi ketetapan di dalam Bahasa Indonesia.

– Lalu mengapa kini sebutan hari Ahad berubah menjadi hari Minggu?

– Kelompok dan kekuatan siapakah yang mengubahnya?

– Apa dasarnya ?

– Resmikah dan ada kesepakatankah?

Kita ketahui bersama bahwa nama hari yang telah resmi dan kokoh tercantum ke dalam penanggalan Indonesia sejak sebelum zaman penjajahan Belanda dahulu adalah dgn sebutan :

1. “Ahad” (al-Ahad = hari kesatu),

2. “Senin” (al-Itsnayn=hari kedua),

3. “Selasa” (al-Tsalaatsa’ = hari ketiga)

4. “Rabu” (al-Arba’aa = hari keempat),

5. “Kamis” (al-Khamsatun = hari kelima),

6. “Jum’at” (al-Jumu’ah = hari keenam = hari berkumpul/berjamaah),

7. “Sabtu” (as-Sabat=hari ketujuh).

Nama hari tersebut sudah menjadi kebiasaan dan terpola di dalam semua kerajaan di Indonesia.

– Semua ini adalah karena jasa positif interaksi budaya secara elegan dan damai serta besarnya pengaruh masuknya agama Islam ke Indonesia yang membawa penanggalan Arab.

Sedangkan kata “MINGGU” diambil dari bahasa Portugis, “Domingo” (dari bahasa Latin Dies Dominicus yang berarti “Dia Do Senhor”, atau “HARI TUHAN KITA”).

Dalam bahasa Melayu yang lebih awal, kata ini dieja sebagai “Dominggu” dan baru sekitar akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, kata ini dieja sebagai “Minggu”.

Jadi, kita pasti paham siapa yang dimaksud “TUHAN KITA”, bagi yg beribadah di hari minggu.

Bagaimana ini bisa terjadi?

– Ada yang mengatakan dengan dana yang cukup besar dari luar Indonesia, dibuat membiayai monopoli pencetakan kalendar selama bertahun-tahun di Indonesia.

– Percetakan dibayar agar menihilkan (0) kata “AHAD” diganti dengan “MINGGU”.

– Setetah kalender jadi, lalu dibagikan secara gratis atau dijual obral (sangat murah).
Dampaknya adalah:

– Masyarakat Indonesia secara tak sadar, akhirnya kata *Ahad* telah terganti menjadi *Minggu* di dalam penanggalan Indonesia.

Pentingkah?
Jawabannya :

“SANGAT PENTING” untuk upaya mengembalikan kata “Ahad” .

Bagi umat Islam adalah penting, karena :

– Kata “Ahad” mengingatkan kepada nama “Allah عزوجل ” yg Maha “Ahad” sama dengan “MahaTunggal”/ “Maha Satu” / “Maha Esa”.

– “Allah” tidak beranak dan tidak diperanakkan

– Kata “Ahad” dalam Islam adalah sebagai bagian sifat “Allah عزوجل ” yang penting dan mengandung makna utuh melambangkan “ke-Maha-Esa-an Allah عزوجل “.

Oleh karena itu :

– Mari kita ganti “MINGGU” menjadi “AHAD”.

– Apabila dalam 7 (tujuh) hari biasa disebut “SEMINGGU”, yang tepat adalah disebut dengan “SEPEKAN”, dan bukan “minggu depan”, tapi “pekan depan”.

Mari mulai sekarang kembalikanlah hari AHAD.

lupakanlah minggu.

Perkembangan dan Kemajuan Bahasa dan Sastra Masa Bani Abbasiyah

Image: republika.co.id

Perkembangan seni bahasa dan kesusastraan, baik puisi maupun prosa mengalami kemajuan yang cukup berarti. Hal itu disebabkan karena bahasa dan kesusastraan merupakan salah satu perhatian besar penguasa Bani Abbasiyah dan juga para ahli bahasa dan seniman. Untuk mengetahui hal itu, berikut uraian singkatnya:

A. Perkembangan Puisi

Berbeda dengan masa pemerintahan dinasti Bani Umayyah yang belum banyak melahirkan sastrawan yang membawa aliran baru. Pada masa pemerintah Bani Abbas, terjadi perubahan dan perkembangan puisi dengan aliran baru dalam sajak-sajaknya, baik isi, uslub, tema ataupun sasarannya, sehingga dalam hal-hal tersebut para sastrawan pada zaman pemerintahan Bani Abbas mengungguli keterampilan para sastrawan sebelumnya.

Para penyair pada masa pemerintahan Bani Umayyah, masih kental dalam mempertahankan keaslian warna arabnya, sehingga mereka menghindari filsafat, bahkan apa saja yang bukan asli Arab. Sedangkan para sastrawan pada zaman pemerintahan Bani Abbas telah melakukan perubahan kebiasaan tersebut. Mereka telah mampu mengombinasikannya dengan sesuatu yang bukan berasal dari tradisi Arab. Oleh karena itu, pada masa ini, sajak-sajak memiliki ciri khas, seperti:

  1. Penggunaan kata uslub dan ibarat baru
  2. Pemakaian pengertian-pengertian baru karena memiliki imajinasi yang cukup luas dan kemampuan menyadur dari sumber lain
  3. Pemujaan yang berlebihan terhadap sesuatu
  4. Penciptaan sajak yang melukiskan khamar dan sajak cabul
  5. Pengutaraan sajak lukisan yang hidup
  6. Pemakaian sajak ratapan
  7. Penyusunan ibarat filsafat untuk memperkembang ilmu akal.
  8. Penggunaan keindahan kata (badi’)
  9. Pengutaraan cinta kasih
  10. Perombakan adat kebiasaan lama dalam persajakan.
  11. Kelahiran kritikus sastra dalam zaman ini.

Perubahan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Terjadinya perubahan corak dan tata nilai kehidupan.
  2. Terjadinya evolusi kejadian material.
  3. Terjadi perluasan makna kebangsaan yang telah melampaui batas-batas jazirah arabia.
  4. Pengaruh kebudayaan asing, terutama kebudayaan Persia.
  5. Dukungan kuat dari para khalifah dan para pembesar istana lainnya.

Oleh karena itu, wajar kalau kemudian pada masa pemerintahan Bani Abbas banyak bermunculan penyair terkenal. Diantara mereka adalah sebagai berikut:

  1. Abu Nuwas (145-198 H). Nama aslinya adalah Hasan bin Hani’. Seorang penyair naturalis yang sangat perindu, pelopor pembawa aliran baru dalam dunia sastra Aran Islam.
  2. Abu ‘Athahiyah (130-211 H). Nama aslinya adalah Ismail bin Qasim bin Suwaid bin Kisan. Penyair ulung pembawa perubahan, melepaskan diri dari ikatan-ikatan lama. menciptakan gaya dan perubahan baru dalm dunia sastra.
  3. Abu Tamam (wafat 232 H). Nama aslinya adalah Habib Bin Auwas Ath-Tha’i. Penyair terkenal dengan ratapannya. Memiliki kemampuan menciptakan ibarat yang dalam dan menyusun uslub yang menawan.
  4. Da’bal Al-Khuza’i. (wafat 246 H). Nama aslinya adalah Da’bal Bin Ali Razin Dari Khuza’ah. Penyair besar yang berwatak kritis. Hampir semua karya sastra dan sastrawannya mendapat kritikan tajam dari penyair ini.
  5. Al-Buhtury (206-285 H). Nama aslinya adalah Abu Ubadah Walid al-Bubtury al-Quhthany ath-Tha’i. Penyair pemuja dan pelukis alam mempesona.
  6. Ibnu Rumy (221-283 H). Nama aslinya adalah Abu Hasan Ali bin Abbas. Penyair yang paling berani menciptakan tema-tema baru dan paling mampu mengubah sajak-sajak panjang.
  7. Al-Mutanabby (303-354 H). Nama aslinya adalah Abu Thayib Ahmad bin Husin al-Kufy. Penyair istana yang haus hadiah, pemuja yang paling handal.
  8. Al-Mu’arry (363-449 H). Nama aslinya adalah Abu A’la al-Mu’arry. Penyair berbakat yang memiliki pengetahuan luas dan menjadi kesayangan ulama, para menteri dan para pejabat pemerintahan.

Selain para penyair yang telah disebutkan di atas, masih banyak penyair yang muncul pada masa pemerintahan Bani Abbas yang memiliki andil cukup besar di dalam perkembangan ilmu bahasa dan kesusastraan Islam.

B. Perkembangan Prosa

Pada masa pemerintahan dinasti Bani Abbasiyah, telah terjadi perkembangan yang sangat menarik dalam bidang prosa. Hal itu disebabkan antara lain karena dukungan para penguasa dan kemampuan personal yang dimiliki masing-masing sastrawan. Banyak buku sastra dan novel, riwayat dan kumpulan nasihat dan uraian-uraian sastra yang dikarang atau disalin dari bahasa asing. Di antara tokoh dan pengarang terkemuka pada masa pemerintahan dinasti Bani Abbasiyah antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Abdulloh bin Muqaffa (wafat 143 H)

Ia telah merintis jalan baru bagi pengarang prosa. Abdulloh telah mengarang berbagai buku prosa, di antaranya adalah Kalilah wa Dimnah. Kitab ini terjemahan dari bahasa Sansekerta karya seorang filosuf India bernama Baidaba. Karya ini berisi tentang kisah binatang dan burung yang berintikan filsafat akhlak untuk membina budi pekerti dan membangun jiwa. Ia menyalin ke dalam bahasa Arab dengan bagus sekali. Karya Abdulloh kedua adalah Kitabu Adabish Shogir, yang berisikan tentang akhlak, filsafat dan pergaulan. Karya lainnya adalah Risalah fil-Akhlak yang berisi tentang Akhlak.

2. Abdul Hamid al-Katib

Ia dipandang sebagai pelopor seni mengarang surat, sehingga cara-caranya mengarang surat kemudian menjadi aliran yang memiliki banyak pengikut.

3. Al-Jahidh (wafat 255 H)

Nama lengkapnya adalah Abu Usman Umar bin Bahar bin Mahbub al-Kanany al-Lisy. Ia pengarang prosa angkatan kedua dalam zaman dinasti Bani Abbasiyah. Ia telah mengarang banyak buku, diantaranya adalah Kitabul Bayan wat Tibyan, Kitabul Hayawan, Kitabul Mahasin wal Adidad, Kitabul Bukhala, Kitabul Taj. Semua karyanya ini memiliki nilai sastra tinggi, sehingga menjadi bahan rujukan dan bahan bacaan bagi para sastrawan kemudian.

4. Ibnu Qutaibah (wafat 276 H)

Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Abdulloh bin Muslim bin Qutaibah al-Dinawary. Ia lahir di Kufah pada tahun 213 H. Ia dikenal sebagai ilmuan dan sastrawan yang sangat cerdas dan memikiki pengetahuan yang sangat luas tentang bahasa dan kesusatraan, berani dan tegas. Ia pengarang pertamabyang berani melakukan kritik sastra. Karyanya yang terkenal adalah Uyunul Akhbar, Kitabul Ma’arif, al-Imamah was-Siyasah, Adabul Katib, dan lain sebagainya.

5. Ibnu Abdi Rabbih (wafat 328 H)

Nama lengkapnya adalah Abu Umar Ahmad bin Muhammad bin Abdu Rabbih al-Qurthuby. Ia seorang ulama yang memiliki pengetahuan tentang manusia, penyair berbakat yang memiliki kecenderungan ke sajak drama, sesuatu yang sangat langka dalam tradisi sastra Arab. Karya terkenalnya adalah al-Aqdul Farid, semacam ensiklopedia Islam yang memuat banyak ilmu pengetahuan Islam.

Kemajuan Dalam Bidang Sosial Budaya Bani Abbasiyah

Selama masa pemerintahan dinasti Bani Abbasiyah (750-1258 M), banyak perkembangan yang terjadi, diantaranya adalah perkembangan bahkan kemajuan dalam bidang sosial budaya. Di antara perkembangan itu adalah bidang:

A. Seni Bangunan dan Arsitektur

*Seni bangunan dan Arsitektur Masjid

Masjid merupakan bangunan tempat ibadah umat Islam yang merupakan wakil paling menonjol dari arsitektur Islam. Oleh karena itu, masjid merupakan seni arsitektur Islam yang tidak ada tandingannya. Arsitektur Islam yang berkembang pada masa dinasti Bani Abbasiyah masih mengacu pada perkembangan seni arsitektur Islam sebelumnya, yakni pada masa Bani Umayyah. Salah satu bangunan masjid yang didirikan pada masa pemerintahan Bani Abbas adalah bangunan masjid Samarra, di Baghdad. Masjid ini sangat indah yang mewakili keindahan seni arsitektur pada zamannya. Masjid ini dilengkapi dengan Sahn, sebuah lengkungan menyerupai bentuk piring. Sekeliling pinggir sahn dilengkapi dengan serambi-serambi. Pada setiap sudut masjid didirikan mercu berbentuk bulat yang terbuat dari batu bata. Umumnya masjid tidak menggunakan daun pintu, begitu juga Masjid Samarra. Pintu-pintu terbuka ini berujung pada satu titik. Dengan demikian, terlihat barisan pintu yang berbentuk kerucut.

Hal penting lainnya dari segi gaya dan seni arsitektur Masjid Samarra adalah tiang-tiang yang dipasang beratap lengkung. Tiang-tiang tersebut dibangun dengan batu bata. Tiang-tiang yang dibangun dengan batu bata itu berbetjk segi delapan dan didirikan diatas dasar segi empat. Kemudian dasar-dasar ini ditopang oleh tiang-tiang dari marmer bersegi delapan. Kemudian disambungkan ke bagian lain dengan mempergunakan logam atau besi berbentuk lonceng. Masjid ini merupakan bangunan yang memiliki seni arsitektur sangat megah pada zamannya.

Selain Masjid Samarra yang memiliki seni arsitektur bangunan yang luar biasa, Masjid Ibnu Thulun juga memiliki keiatimewaan dari segi seni bangunan atau arsitekturnya. Masjid ini didirikan pada tahun 876 M oleh Ahmad bin Thulun, salah seorang penguasa wilayah Mesir.

Masjid Samarra Bani Abbasiyah, Baghdad iraq, seni bangunan masjid bani abbasiyah

* Seni Bangunan Kota

Peradaban Islam mengalami masa keemasan pada masa pemerintahan dinasti Bani Abbasiyah (750-1258 M). Seni bangunan Islam yang pada mulanya hanya sederhana yang menjelma dalam bentuk masjid, kemudian berangsur-angsur merambah ke seni bangunan lain, setelah umat islam memperoleh pengetahuan dan teknik dari tenaga ahli dari wilayah-wilayah yang menjadi wilayah kekuasaan Islam.

Meskipun demikian, seni bangunan Islam masih mempunyai ciri khas dan gayanya yang tersendiri, yang terwujud dalam bentuk pilar, lengkung kubah, hiasan lebah bergantung (muqarnashat) yang menonjol bersusun di depan masjid dan di menara tempat azan ataupun di puncak pilar. Pembangunan kota-kota baru dan pembaharuan kota-kota di seluruh wilayah pemerintahan dinasti Bani Abbasiyah, telah membuka jalan bagi pembangunan gedung-gedung, istana, masjid dan sebagainya. Di antara sekian banyak kota yang dibangun dalam masa pemerintahan dinasti Bani Abbasiyah adalah kota Baghdad, yang dibangun oleh Abu Ja’far al-Mansur (136-158 H/754-775 M). Tempat yang dipilih untuk membangun kota itu adalah lokasi di tepi Sungai Eufrat (furat) dan Dajlah (Tigris). Pembangunan ini diarsiteki Hallaj bin Arthah dan Amran bin Wadldlah, dua orang arsitek terkenal saat itu. Tenaga kerja yang diperlukan dalam pembangunan kota ini sekitar 100.000 orang.

Arsitektur kota Baghdad berbentuk bundar, gaya baru dari seni bangunan kota Islam. Di pusat kota, dibangun istana khalifah dan masjid jami’. Di sekeliling istana dan masjid terdapat alun-alun, selain ada asrama pengawal, rumah komandan pengawal dan rumah kepala polisi. Di sekitar pemukiman itu, barulah dibangun rumah-rumah untuk para putra khalifah dan kerabatnya, para pegawai dan para inang pengasuh istana. Setelah itu, barulah dibangun istana-istana para menteri dan pembesar negara lainnya.

Di kota, dibangun pagar tembok yang sangat kuat dan tinggi, dengan empat pintu masuk dari empat penjuru. Selain itu, kota dihiasi dan dilengkapi dengan taman-taman bunga kolam pemandian, ribuan masjid dan berbagai tempat rekreasi. Selain itu, pembagian kota dilakukan secara teratur, ada daerah perumahan, daerah pasar, daerah indrusti dan sebagainya. Masing-masing daerah memiliki perangkat yang dibutuhkan bagi pembangunan dan pengembangan daerah tersebut.

Istana dibangun oleh khalifah Al-Manshur di pusat kota bernama Qashru al-Dzahah (Istana Keemasan) yang luasnya sekitar 160.000 hasta persegi. Sedang masjid jami’ didepannya memiliki luas areal sekitar 40.000 hasta persegi. Istana dan masjid tersebut merupakan simbol pusat kota. Dari setiap sudut perempatannya terdapat jalan raya utama ke arah luat kota. Di kiri kanan jalan tersebut dibangun gedung-gedung indah dan bertingkat.

Dalam waktu yang relatif singkat, Baghdad menjadi kota yang ramai dikunjungi oleh berbagai lapisan masyarakat dari seluruh penjuru dunia. Oleh karena itu, sekitar tahun 157 H, Khalifah al-Manshur membangun istana baru di luar kota yang diberi nama Istana Abadi (Qashrul Khuldi). Khalifah al-Manshur membagi kota Baghdad menjadi empat daerah, yang masing-masing daerah dikepalai oleh seorang Naib Amir (wakil gubernur) dan tiap-tiap daerah diberi hak mengurusi wilayah sendiri, yaitu daerah yang otonom.

Perkembangan Peradaban Islam Masa Pemerintahan Dinasti Abbasiyah (750-1258 M)

bani abbasiyah, peradaban islam bani abbasiyah, dinasti bani abbasiyah, periode klasik, masa pemerintahan abbasiyah, peta kekuasaan dinasti bani abbasiyah

Dinasti Bani Abbasiyah yang berkuasa sejak tahun 132-656 H (750-1258 M), merupakan dinasti islam yang paling berhasil daklam mengembangkan peradaban Islam. Keberhasilan menciptakan pemikiran kreatif dan menghasilkan karya yang monumental dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, peradaban islam, sosial budaya, dan sebagainya, tidak pernah lepas dari kebijakan-kebijakan khalifah dan peran para tokoh. Para tokoh inilah yang menjadi ujung tombak di dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban islam serta kemajuan sosial budaya.

Para ahli sejarah tidak meragukan hasil kerja para pakar pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah di dalam memajukan ilmu pengetahuan dan peradaban islam, termasuk kemajuan dalam  bidang sosial dan budaya. Untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan sosial budaya yang terjadi pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah, berikut uraiannya.

  1. Kemajuan Dalam Bidang Sosial Budaya
  2. Perkembangan dan Kemajuan Bahasa dan Sastra
  3. Perkembangan Seni Musik
  4. Kemajuan Dalam Bidang Pendidikan
  5. Kemajuan Bani Abbasiyah dalam Ilmu Pengetahuan
  6. Kemajuan Ilmu Pengetahuan Agama Masa Dinasti Abbasiyah

Penaklukan Spanyol (Andalusia) oleh Bani Umayyah

Penaklukan spanyol (Andalusia)

Andalusia islam, islam di spanyol, penaklukan andalusia

Andalusia islam, islam di spanyol, penaklukan andalusia

Penaklukan spanyol merupakan peristiwa penting dalam perjalanan sejarah umat islam, khususnya pada masa pemerintahan bani Umayah (661-750 H). penaklukan spanyol dapat dilakukan pada masa pemerintahan Khalifah al-Walid bin Abdul Malik. Spanyol merupakan wilayah bagian kerajaan Romawi. Ketika penguasa setempat dikalahkan oleh golongan Gothic, spanyol memasuki periode pemerintahan yang dzalim dan korup. Para pengasanya menindas dengan kejam masyarakat yang kebanyakan para petani. Para petani ini dibebani dengan pajak yang sangat berat. Sementara kelas menengah atas, yang kebanyakan kaum bangsawan dan orang kaya, dibebaskan dari beberapa pungutan pajak. Kaum budak benar-benar tertindas. Mereka tidak memiliki kebebasan sama sekali. Bahkan mereka tidak diberi kesempatan untuk melakukan pernikahan.

Sementara itu, para pemeluk agama yahudi dipaksa untuk memeluk agama Kristen. Mereka yang melakukan perlawanan dan pemberontakan akan dibantai habis. Pendek kata, para penguasa krtika itu sangat bertindak diluar batas kemanusiaan. Para penguasa memaksakan kehendaknya untuk kepuasan pribadi. Masyarakat dibiarkan menderita dan sengasara. Kenyataan ini sangat berbeda dengan kenyataan yang ada di wilayah-wilayah islam. 

Keberhasilan Roderick menguasai wilayah spanyol membuat dirinya berambisi untuk menguasai wilayah Afrika Utara. Sehingga kepulauan  Ceuta (Septah) yang dikuasai De Graft Julian dikuasai Roderick. Terusirnya raja Julian di wilayah Ceuta, membuat dirinya tidak punya pilihan lain kecuali meminta bantuan kepada penguasa Afrika utara, yaitu Gubernur Musa bin Nushair. Julian meminta bantuan kepada Musa bin Nushair untuk mengusir Roderick dari wilayah kekuasaannya. Permintaan itu disambut dengan baik oleh Musa bin Nushair. Tetapi sebelum ia melancarkan serangan guna membantu Julian, Musa bin Nushair meminta izin kepada khalifah al-Walid bin Abdul Malik. Permohonan tersebut dikabulkan oleh Khalifah Al-Walid.

Sebelum melakukan serangan ke wilayah spanyol, Musa bin Nushair terlebih dahulu mengutus orang kepercayaannya bernama Tharif bin Malik untuk menyelidiki keadaan di spanyol. Penyelidikan ini mendapat bantuan dari Julian berupa peminjaman kapal layar untuk berlayar ke spanyol. Dari hasil penyelidikan itu, Tharif memberikan data dan informasi penting mengenai keadaan sebenarnya dan dari daerah mana tentara islam akan masuk.

Dari data dan informasi itu, Musa bin Nushair mempersiapkan pasukan sekitar 7.000 tentara utnuk melakukan penyerangan ke spanyol. Untuk memimpin penyerangan itu, Musa bin Nushair memberika kepercayaan kepada Thariq bin Ziyad. Berbekal informasi dan data yang diperoleh Tharif bin Malik, akhirnya Thariq bin Ziyad berhasil memasuki wilayah benteng pertahanan spanyol di sebuah selat, yang kemudian selat ini dikenal dengan selat Jabal Thariq atau Giblaltar. Penaklukan ini terjadi pada tahun 711 M. dari selat Giblaltar ini, Thariq bin Ziyad dan pasukannya merangsek masuk ke wilayah kekuasaan Roderick di spanyol. Roderick terdesak hingga ke tebing Sungai Guadalete. Karena terdesak, Roderick menceburkan diri ke sungai tersebut dan tewas. Setelah berhasil mengalahkan Roderick, Thariq dan pasukannya menguasai Sidonia, Carmona, dan Granada.

Setelah berhasil menguasai wilayah tersebut, Thariq membawa pasukannya untuk menguasai Cordova dan Toledo, ibu kota pemerintahan spanyol. Jadi, dalam waktu yang singkat, Thariq bin ZIyad dan pasukannya berhasil dengan mudah menguasai spanyol. Keberhasilan Thariq menguasai spanyol membangkitkan keinginan Musa bin nushair mengunjungi wilayah tersebut. Karena itu, sekitar tahun 712 M, Musa bin Nushair membawa 18.000 pasukannya ke spanyol dan mendarat diwilayah itu pada nulan juli 712 M. dengan mudah Musa menaklukkan wilayah Seville dan sejumlah kota kecil lainnya. Di dekat koat Toledo, Musa bin nushaor menjumpai Thariq bin Ziyad. Pada kesempatan itu, Musa memarahi Thariq yang tidak melaporkan harta rampasan perang. Tetapi akhirnya keduanya mencapai kesepakatan untuk bekerja sama dan membentuk pasukan gabungan islam guna melancarkan serangan lebih jauh ke wilayah spanyol lain. Pasukan gabungan ini berhasil menguasai Sarragosa, Terragona, dan Barcelona. Setelah itu, pasukan Musa bin Nushair mengerahan pasukannya untuk menaklukkan wilyaha Eropa lainnya.

Namun sebelum ia berhasil menguasai Eropa, Musa bin nushair dipanggil ke istana Khalifah al-Walid. Sebab khalifah mendengar adanya informasi mengenai perlakuan kasar yang dilakukan Musa kepada Thariq. Khalifah memanggilnya untuk kembali dan menemuinya di Damaskus. Tetapi sebelum meninggalkan spanyol, Musa bin Nushair menetapkan anaknya yang bernama Abdul Azis sebagai raja muda di spanyol. Abdullah sebagai gubernur Afrika Utara dan Abdul Malik sebagai Gubernur Maroko. Dengan membawa harta rampasan yang banyak, Musa bin Nushair pergi menuju Damaskus untuk menyerahkan harta rampasan tersebut. Namun sebelum Musa sampai di Damaskus, Khalifah al-Walid meninggal dunia pada tahun 96 H/715 M.

Terlepas dari konflik antara Musa bin Nushair dengan Thariq bin ZIyad, yang keberhasilan tentara islamdi bawah pimpinan Thariq bin Ziyad dan Musa bin nushair ini membawa citra bagi umat islam. Sebab penaklukan spanyol membuka lembaran baru dalam perjalanan sejarah politik militer umat islam, khususnya pada masa dinasti Bani Umayyah (661-750 M). karena Umat islam telah membebaskan masyarakat spanyol dari kekejaman dan kedzaliman penguasa Roderick.

Jatuhnya spanyol dan beberapa kota penting di negeri itu,membuka jalan baru bagi upaya umat islam untuk menyebarkan islam keseluruh Eropa. Namun sayang, konfilk intern kemudian menjadi penyebab utama kehancuran penguasa islam di spanyol dan menyebabkan mereka terusir dari negeri itu pada tahun 1492 M.

Perluasan wilayah dan pengembangan struktur (Bani Umayyah)

c. Usaha Perluasan Wilayah ke Timur

Usaha perluasan wilayah terus dilakukan, bahkan lebih intensif lagi, terutama pada masa pemerintahan Khalifah al-Walid bin Abdul Malik (50-96 H/668-715 M) yang melakukan perluasan wilayah ini hingga mencapai Eropa. Berikut uraian singkatnya.

  1. . Penaklukan Asia Tengah

Wilayah Asia Tengah di kepulauan Transoxania, tanah air bangsa Turki terdiri dari beberapa kerajaan kecil, seperti Balkh, Bukhara, Farghana dan Khawarizm. Kerajaan-kerajaan kecil ini selama masa pemerintahan dinasti Bani Umayyah seringkali mengganggu aktifitas politik pemerintahan. Untuk menyelesaikan gangguan tersebut, pemerintah Bani Umayyah pernah mengirim Yazid bin Muhallab, tetapi karena ia dipandang oleh Hajjaj bin Yusuf tidak mampu mengatasi persoalan tersebut, Hajjaj memecat dari jabatannya sebagai panglima militer di wilayah tersebut. Kemudian Hajjaj mengutus Qutaibah bin Muslim Al Bahily menggantikan kedudukannya sebagai panglima militer.

Setelah menjadi panglima yang diberi kepercayaan oleh Hajjaj bin Yusuf, Qutaibah bin Muslim berhasil mengatasi berbagai pemberontakan dan gejolak sosial politik di wilayah Asia Tengah. Wilayah-wilayah yang melakukan perlawanan tersebut kemudian dikuasai dan menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Bani Umayyah. Usaha penyerangan pertama dilakuka Qutaibah ke wilayah Balkh ibu kota Turkistan pada tahun 705 M. kota tersebut dapat dikuasai dengan mudah. Raja-raja di negeri ini menyerah kepada Qutaibah dan menyatakan bersedia membayar pajak kepada pemerintah pusat di Damaskus.

Selesai menaklukkan Turkistan, Qutaibah melanjutkan penaklukan ke wilayah Bukhara. Setelah melalui pertempuran kecil, Qutaibah berhasil menguasai negeri Bukhara tersebut. Kemudian sekitar tahu 710 M, Qutaibah menyeberangi selat Oxus dan berhasil mengalahkan raja Khawarizm.

Ketika mendengar adanya gerakan pemberontakan di wilayah Khurasan, ia kembali ke Khurasan dan berhasil mengatasi para oemberontak yang ingin memisahkan diri dari pemerintahan dinasti Bani Umayyah. Selama lebih kurang dua tahun, Qutaibah berhasil menguasai dan menaklukkan wilayah Timur lainnya. Sehingga seluruh kota di wilayah Farghana dan perbatasan daratan Cina dapat dikuasainya dan menjadi wilayah jajahan dinasti Bani Umayyah. Kemudian pada tahun 714 M Qutaibah melakukan serangan ke negeri Cina Turkistan dan berhasil menguasai kota Yashgar. Namun setelah kematian Khalifah al-Walid pada tahun 96 H/715 M, wilayah ini melepaskan diri dari pemerintahan dinasti Bani Umayyah. Usaha merebut kota ini kemudian dilanjutkan pada masa-masa pemerintahan islam lainnya.

2. Penaklukan kembali wilayah Afrika Utara

Pada masa-masa khalifah sebelumnya, terutama masa Abdul Malik bin Marwan (65-86 H/685-705 M), beberapa wilayah Afrika Utara berhasil dikuasai oleh pasukan Uqbah bin Nafi’ dan panglima Abul Muhajir. Namun setelah pergantian kekhalifahan di Damaskus, wilayah Afrika Utara melepaskan diri. Bangsa Barbar terus melakukan gerakan pemberontakan untuk melepaskan diri dari pemerintah dinasti Bani Umayyah. Usaha untuk tetap mempertahankan wilayah Afrika Utara yang dianggap sangat penting bagi pemerintahan dinasti Bani Umayyah ini terus dilakukan, khususnya pada masa pemerintahan al-Walid bin Abdul Malik. Untuk mengatasi berbagai pemberontakan yang terjadi di wilayah ini, khalifah Walid bin Abdul Malik mengirim pasukan di bawah pimpinan Musa bin Nusair. Selqin sebagai panglima, Musa bin Nusair juga menjabat sebagai gubernur di wilayah Afrika Utara.

Berbagai gangguan dan gerakan pembwrontakan yang dilakukan suku Barbar dan orang-orang Romawi dapat diatasi oleh Musa bin Nusair. Sehingga beberapa wilayah Laut Tengah dapat dikuasai, seperti Mayorca, Ivica, dan Wilayah perbatasan Spanyol. Keberhasilan Musa bin Nusair menguasai wilayah Afrika Utara membuka jalan bagi tentara Islam untuk menaklukkan wilayah Spanyol di Eropa.

.

Orientasi dan Kebijakan Politik Bani Umayyah (Part 1)

Perluasan wilayah dan pengembangan struktur

1. Penaklukan Afrika Utara

Selama masa pemerintahannya, Mua’wiyah bin Abi Sufyan telah melakukan berbagai kebijakan untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Hal itu dilakukan setelah dia berhasil melakukan pengamanan situasi di dalam negeri. Muawiyah segera melakukan pengerahan pasukannya untuk mengadakan upaya perluasan wilayah kekuasaan. Salah satunya adalah upaya penaklukan ke wilayah Afrika Utara. Upaya ini merupakan salah satu peristiwa penting dan bersejarah selama masa-masa kekuasaannya (661-680 M).

Usaha ini dilakukan Mu’awiyah, karena para penjajah bangsa romawi terus melakukan perlawanan di Afrika Utara. Perlawanan bangsa Romawi ini sangat menggangu usaha dan kerja Gubernur Amr bin al-Ash yang sedang memimpin wilayah Mesir. Oleh karena itu, Mu’awiyah bin Abi Sufyan memerintah Amr bin al-Ash untuk mengatasi persoalan tersebut. Untuk itu Amr bin al-Ash mengirim seorang jenderal bernama Uqbah bin Nafi’. Usahanya ini berhasil, sehingga ia dan pasukannya menguasai kota Qairuwan hingga ke Selatan Tunisia pada tahun 50 H/670 M. kota Qairuwan kemudian dijadikan sebagai benteng pertahanan dan pusat pemerintahan provinsi dan pangkalan militer untuk wilayah Afrika Utara. Dengan kekuatan militer dan pertahanan yang cukup memadai, akhirnya pasukan Romawi dapat dikalahkan dan terusir hingga di sebuah pulau kecil di Afrika Utara. Pulau itu bernama Septah atau Ceuta.

Meskipun bangsa Romawi berhasil diusir dan dikalahkan pada tahun 50 H/670 M, bangsa Romawi berhasil mempengaruhi bangsa Barbar untuk melakukan perlawanan terhadap bangsa Arab Muslim. Oleh karena itu, Uqbah bin Nafi’ melakukan serangan kembali. Namun sebelum usaha itu berhasil, Mu’awiyah mengganti gubernur Uqbah bin Nafi’. Posisi Uqbah kemudian digantikan oleh Abul Muhajir. Di bawah pimpinan Abul Muhajir, pasukan muslim berhasil menaklukkan suku Barbar dan mengajak mereka untuk masuk islam.

2. Penaklukan Konstantinopel

Salah satu ambisi Muawiyah bin Abi Sufyan adalah mengadakan penyerangan ke ibu kota Bizantium, yaitu Konstantinopel. Untuk maksud ini, Muawiyah telah mempersiapkan sebuah pasukan besar terdiri atas 1700 kapal perang lengkap dengan berbagai peralatan tempur. Pasukan ini dipimpin oleh putra kesayangan Muawiyah, yaitu Yazid bin Muawiyah. Pasukan perang ini kemudian menuju ke pulau-pulau yang berada di sekitar Laut Tengah. Pada tahin 53 H, pasukan Yazid berhasil menguasai pulau Rhodesia. Tahin 54 H, berhasil menaklukkan pulau Kreta. Dari situ pasukan umat Islam terus melanjutkan perjalanannya hingga akhirnya dapat menaklukkan pulau Sicilia dan pulau Arwad yang tidak jauh dari Konstantinopel.

Setelah berhasil menaklukkan pulau-pulau di Laut Tengah, pasukan umat Islam mempersiapkan diri di bawah pimpinan Sufyan bin Auf untuk menaklukkan Konstantinopel. Dalam rombongan pasukan ini, ikut pula Abu Ayyub al Anshary, Abdulloh bin Zubeir, Abdulloh bin Umar, Abdulloh bin Abbas, selain Yazid bin Muawiyah. Tiba di dekat kota Konstantinopel, pasukan Islam melakukan pengepungan selama lebih kurang 7 tahun. Tetapi karena kuatnya benteng pertahanan dan pasukan diserang dari berbagai arah, akhirnya usaha penaklukkan kota tersebut mengalami kegagalan. Dalam misi ini, salah seorang tokoh Islam, Abu Ayyub al Anshary gugur. Usaha penaklukan kota ini terus dilakukan pada masa-masa sesudahnya, dan baru dapat dikuasai umat Islam pada masa pemerintahan dinasti Utsmani, ketika Muhammad al Fatih menaklukkan kota itu pada tahun 1453 M.

3. Usaha perluasan Wilayah ke Timur

Usaha perluasan wilayah kekuasaan Bani Umayyah tidak hanya dilakukan ke bagian Barat, seperti Meair dan Afrika Utara hingga kepulauan Laut Tengah, juga dilakukan ke wilayah Timur, seperti Turkistan, Sijistan, Balkh, dan lain-lain. Pada tahin 44 H, Muawiyah bin Abi Sufyan mengirim pasukab di bawah pimpinan al-Muhallab bin Shafarah untuk menaklukkan wilayah Sindus, yaitu daerah yang membentang mulai dari Kabul hingga Multan. Dalam usaha ini al-Muhallab berhasik menaklukkan daerah-daerah tersebut, tanpa mengalami banyak hambatan. Karena pasukan Islam begitu kuat, sementara pasukan lawan tidak.

Selain itu usaha yang dilakukan pasukan Islam ini tidak hanya menggunakan kekuatan militer, juga melalui pendekatan kemanusiaan dan keagamaan, sehingga banyak diantara mereka yang menerima umat Islam dengan senang hati. Tanpa melakukan perlawanan. Usaha perluasan wilayah kekuasaan islam yang dilakukan oleh Khalifah Muawiyah ini berhasil menambah luas wilayah kekuasaan dinasti Bani Umayyah ini. Sehingga luas wilayah kekuasaan dinasti Bani Umayyah meliputi wilayah Jazirah Arabia, anak Benua India, Afrika, dan sebagian kepulauan Laut Tengah. Dengab kemauan keras dan ambisi pribadinya, Muawiyyah berhasil menggabungkan.

Kemajuan Dalam Bidang Ilmu Pengetahuan (Bani Umayyah)

Meskipun para penguasa dinasti Bani Umayyah lebih mengutamakan usaha pengembangan wilayah kekuasaan dan memperkuat angkatan bersenjata, ternyata banyak juga usaha positif yang dilakukan untuk pengembangan ilmu penhetahuan. Salah satu cara untuk mendorong agar ilmu pengetahuan itu berkembang adalah dengan memberikan motivasi dan anggaran yang cukup besar yang diberikan untuk para ulama, ilmuan, seniman dan sastrawan. Tujuannya antara lain agar para ulama, ilmuan, sastrawan dan seniman, bekerja secara maksimal dalam mengembangkan ilmu pengeyahian islam, dan tidak lagi memikirkan masalah keuangan rumah tangga mereka.

Di antara ilmu pengetahuan yang berkembang ketika itu adalah ilmu agama, ilmu sejarah dan geografi, dan ilmu kedokteran. Untuk mengetahui mengenai perkembangan ilmu-ilmu tersebut, berikut uraiannya.

1. Ilmu-ilmu agama

Di antara ilmu-ilmu agama yang mengalami perkembangan pada masa itu adalah ilmu Al-Qur’an, ilmu Hadits, ilmu Fiqih. Ilmu AlQur’an telah mengalami perkembangan lebih awal daripada ilmu Hadits. Sebab proses pembukuan ilmu Hadits baru terjadi pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Azis (99-100H). Sejak saat itu, ilmu Hadits mengalami perkembangan dengan pesat. Sementara ilmu Fiqh baru mengalami perkembangan pada masa-masa sesudahnya. Di antara ahli Hadits yang sangat berjasa dalam pengembangannya adalah al Zuhry.

2. Ilmu Sejarah dan Geografi

Ilmu ini juha mengalami perkembangan yang cukup baik pada masa ini. Salah seorang sejarawan yang berhasil mencatat berbagai peristiwa sejarah yang terjadi pada masa pemerintahan sebelumnya dan masa pemerkntahan dinasti Bani Umayyah adalah Ubaid bin Syaryah al Jurhumi. Ia diperintah oleh Muawiyah bin Abi Sufyan untuk menulis buku sejarah masa lalu dan masa Bani Umayyah. Di antara karya-karyanya adalah Kitab al Muluk wal Akhbar al Madhi (Buku catatan sejarah raja-raja masa lalu). Selain Ubaid bin Syaryah al Jurhumi, terdapat sejarawan lain, yaitu Shuhara Abdi, yang menulis buku Kitabul Amsal.

3. Kedokteran

Ilmu ini belum mengalami kemajuan berarti pada masa awal pemerintahan dinasti Bani Umayyah. Tetapi pada masa pemerintahan al-Walid bin Abdul Malik telah terjadi perkembangan yanh cukup baik dalam bkdang kedokteran, karena pada tahun 88 H/706 M, ia telah berhasil mendirikan sekolah tinggi kedokteran. Al-Walid memerintahkan kepada para dokter untuk melakukan berbagai kegiatan riset dengan anggaran yang cukup. Para dokter yang bertugas di lembaga tersebut digaji oleh negara. Al Walid melarang penderita penyakit kusta menjadi pengemis dj jalan-jalan. Untuk itu, bahkan khalifah telah menyediakan dana khusus bagi para penderita penyakit kusta.

loading…